June 2, 2026

PAGER SAGULING Dideklarasikan, Gerakan Santri dan Tokoh Budaya Bersatu Lawan Krisis Iklim di DAS Citarum

Pemukulan gong menandai resmi dideklarasikannya Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) sebagai gerakan sosial-ekologis berbasis spiritualitas, budaya, dan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi krisis lingkungan dan perubahan iklim

BANDUNG BARAT,Rajindonews.id – Gerakan sosial-ekologis berbasis masyarakat sipil bertajuk Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) resmi dideklarasikan di Bandung Raya, Jawa Barat, sebagai bentuk respons terhadap krisis lingkungan dan ancaman perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan, khususnya di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan Bendungan Saguling.

Deklarasi tersebut mempertemukan berbagai elemen masyarakat mulai dari santri, tokoh agama, tokoh budaya, akademisi, komunitas adat, aktivis lingkungan, pemuda hingga masyarakat sipil dalam satu gerakan kolektif untuk memperkuat aksi pemulihan lingkungan hidup berbasis spiritualitas, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Gerakan ini digagas oleh Haris Bunyamin, Vega Karwanda, Henda Suwenda, Kustiwa Kartaria, dan Ustadz Hedar Suhendar, serta dihadiri sejumlah tokoh dan akademisi seperti Asep Saeful Muhtadi, Kun-Kunrat, Drs. H. Agus Ishak, Ir. Denda dari KORMI Jawa Barat, Eyang Memet, Agus Khazim dari PPM, dan Zaki Zimatillah Z.

Dalam deklarasinya, PAGER SAGULING menilai persoalan lingkungan hidup saat ini tidak lagi sekadar persoalan teknis, tetapi telah berkembang menjadi persoalan sosial, budaya, ekonomi, moral, hingga spiritualitas manusia dalam memandang hubungan dengan alam.

“Krisis lingkungan terjadi akibat pola pembangunan dan eksploitasi alam yang tidak seimbang. Alam bukan hanya objek ekonomi, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama,” demikian salah satu poin deklarasi gerakan tersebut.

PAGER SAGULING mengusung pendekatan ecoteologi, yakni cara pandang yang menempatkan hubungan manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan moral dan spiritual. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari amanah keagamaan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Oplus_131072

Gerakan tersebut juga mengangkat filosofi budaya Sunda melalui konsep aub dan pangauban. Filosofi aub dimaknai sebagai simbol keteraturan, kesabaran sosial, dan keharmonisan hidup, sedangkan pangauban dimaknai sebagai ruang berhimpun dan gotong royong masyarakat dalam membangun solidaritas ekologis.

Selain itu, PAGER SAGULING memperkenalkan konsep masyarakat nyantri dan manusia santri sebagai fondasi pembangunan peradaban ekologis. Santri dalam konteks ini dimaknai sebagai manusia pembelajar yang memiliki kesadaran moral, spiritual, sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan pemanasan global, PAGER SAGULING menyiapkan sejumlah agenda strategis, di antaranya rehabilitasi lingkungan dan DAS melalui penanaman pohon dan konservasi mata air, pendidikan lingkungan berbasis budaya lokal, pengurangan emisi dan sampah plastik, kaderisasi pelopor lingkungan, pengembangan ekonomi hijau, hingga kolaborasi multipihak untuk aksi iklim nasional maupun internasional.

Gerakan ini juga menargetkan pembangunan kesadaran kolektif masyarakat untuk menerapkan pola hidup berkelanjutan, sederhana, dan harmonis dengan alam sebagai bagian dari upaya membangun peradaban baru yang berkeadilan ekologis.

PAGER SAGULING menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan tidak cukup hanya melalui regulasi dan teknologi, tetapi juga membutuhkan pembangunan karakter, budaya gotong royong, serta kesadaran spiritual masyarakat dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama generasi masa depan. (Tom)

About the Author