
BANDUNG BARAT, Rajindonews.id – Sebanyak 35 pengawas Sekolah Dasar (SD) yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) Kabupaten Bandung Barat mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) Tahun 2026 yang digelar berbasis kelompok kerja di SDN 2 Cimareme, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi pertemuan tatap muka perdana dalam rangkaian pelatihan PM-KKA yang sebelumnya telah dibuka secara nasional melalui Zoom Meeting dan siaran langsung pada Jumat (24/7/2026).
Ketua KKPS SD Kabupaten Bandung Barat, Lukman Nurhakim, mengatakan pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi para pengawas untuk meningkatkan kompetensi dalam mendampingi satuan pendidikan menghadapi perkembangan pembelajaran dan teknologi.
“Semangat untuk semuanya. Jangan pernah berhenti belajar. Mudah-mudahan ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan ini menjadi bekal bagi kita dalam mendampingi sekolah binaan,” ujar Lukman.
Menurutnya, pelatihan membutuhkan komitmen dan kedisiplinan peserta karena berlangsung dalam waktu cukup panjang dengan perpaduan pembelajaran daring dan luring.
Pelatihan PM-KKA tersebut berlangsung sekitar 4,5 hingga lima bulan dan terdiri atas tujuh siklus pembelajaran dengan total 121 jam pelajaran (JP). Materi mencakup program umum, program inti, serta program penunjang.
KKPS Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu komunitas pengawas yang mengikuti gelombang pertama dari tiga gelombang pelatihan yang disiapkan. Pertemuan perdana juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan peserta dengan fasilitator sekaligus menyamakan pemahaman mengenai mekanisme pelatihan.
Fasilitator pelatihan, Eli Maftuhfalah, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta, tetapi juga dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembinaan dan pendampingan sekolah.
“Seluruh pembelajaran dalam Pelatihan PM-KKA Tahun 2026 ini akan menjadi bekal penting yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan pendampingan sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut memadukan kegiatan belajar mandiri dan tatap muka. Peserta juga didorong mengembangkan kemampuan implementasi berbasis data, refleksi, serta kolaborasi profesional.
Kemampuan berbasis data diperlukan agar pengawas dapat melaksanakan pembinaan dan pemantauan sesuai kebutuhan sekolah. Sementara kemampuan reflektif diarahkan untuk mendorong evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
Adapun kolaborasi profesional diarahkan untuk memperkuat kerja sama antarpengawas dalam meningkatkan mutu kepengawasan dan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti sejumlah sesi, mulai dari penyampaian materi, diskusi, curah pendapat hingga presentasi.
Lukman Nurhakim menegaskan, keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh keikutsertaan peserta, tetapi juga konsistensi dalam mengikuti seluruh tahapan hingga selesai dan menerapkan hasil pembelajaran di sekolah binaan masing-masing.
“Proses panjang yang akan kita lalui selama pelatihan ini akan memberikan dampak positif apabila seluruh pengawas mengikutinya dengan sungguh-sungguh dan mampu mengimplementasikan hasilnya di sekolah binaan masing-masing,” pungkasnya. Diskominfotik
(Gultom)