
BANDUNG BARAT,Rajindonews.id
Oleh: Haris Bunyamin
Inisiator Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING)
Setiap tanggal 5 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum refleksi dan aksi bersama untuk menjaga keberlanjutan bumi. Peringatan ini lahir dari kesadaran bahwa lingkungan hidup merupakan fondasi utama bagi kelangsungan kehidupan manusia, sekaligus menjadi indikator masa depan peradaban dunia.
Tahun 2026, dunia menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Perubahan iklim global telah memicu peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, banjir besar, kebakaran hutan, krisis air bersih, dan ancaman terhadap ketahanan pangan. Di berbagai negara, kerusakan lingkungan tidak lagi menjadi isu masa depan, tetapi telah menjadi kenyataan yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Situasi tersebut memberikan pesan yang sangat jelas bahwa bumi sedang membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata dari seluruh umat manusia. Tidak ada satu negara pun yang dapat menghadapi persoalan lingkungan sendirian. Menjaga bumi telah menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga dunia.
Dalam perspektif spiritual, bumi merupakan amanah Tuhan yang dipercayakan kepada manusia. Alam semesta diciptakan bukan untuk dieksploitasi tanpa batas, melainkan untuk dikelola secara bijaksana demi kemaslahatan seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, menjaga lingkungan hidup sesungguhnya bukan hanya kewajiban sosial dan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Di Indonesia, tantangan lingkungan hidup terlihat nyata pada berbagai kawasan strategis, termasuk Daerah Aliran Sungai Citarum yang menjadi sumber kehidupan jutaan masyarakat. Sungai, hutan, dan kawasan resapan air menghadapi tekanan akibat pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, perubahan tata ruang, dan pencemaran lingkungan.
Berangkat dari kepedulian terhadap kondisi tersebut, lahirlah Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) sebagai gerakan sosial, ekologis, dan spiritual yang mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis nilai-nilai keislaman, budaya Sunda, dan semangat gotong royong.
PAGER SAGULING meyakini bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus dimulai dari perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Lingkungan tidak boleh diposisikan semata sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan, konservasi sumber daya air, rehabilitasi lahan kritis, pengelolaan sampah, penghijauan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan menjadi bagian penting dari gerakan yang terus dikembangkan.
Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, PAGER SAGULING mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dunia usaha, akademisi, pesantren, komunitas, dan generasi muda untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Tema yang relevan untuk digaungkan adalah:
“Menjaga Amanah Tuhan, Merawat Bumi, Mewariskan Kehidupan bagi Generasi Mendatang”
Tema tersebut mengandung pesan bahwa bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan oleh generasi sekarang, melainkan titipan yang harus dijaga dan diwariskan dalam keadaan lebih baik kepada anak cucu kita.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan slogan. Momentum ini harus menjadi gerakan nyata yang melahirkan perubahan perilaku, memperkuat kesadaran ekologis, dan membangun budaya hidup yang lebih selaras dengan alam.
Masa depan bumi ditentukan oleh keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap pohon yang ditanam, setiap sungai yang dibersihkan, setiap sampah yang dikelola, dan setiap langkah kecil menjaga lingkungan merupakan investasi bagi keberlanjutan kehidupan manusia.
Mari menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sebagai momentum kebangkitan gerakan moral untuk menjaga bumi. Sebab bumi yang lestari bukan hanya kebutuhan generasi saat ini, tetapi hak generasi yang akan datang.
Bumi adalah amanah Tuhan. Menjaganya adalah ibadah. Mewariskannya dalam keadaan lestari adalah tanggung jawab peradaban.***