
Oleh : Jachja Taruna Djaja (Anti Korupsi)
BANDUNG BARAT, Rajindonews.id – Peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Bandung Barat (KBB) ke-19 hendaknya tidak hanya diisi dengan seremoni, panggung hiburan, atau laporan capaian pembangunan. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi ajang refleksi atas perjalanan daerah yang lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan banyak pihak.
Kabupaten Bandung Barat tidak lahir karena hadiah dari pemerintah pusat. KBB lahir melalui proses panjang yang penuh dinamika, perdebatan, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya dari para tokoh masyarakat, ulama, akademisi, aktivis, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat yang menginginkan percepatan pembangunan melalui pembentukan daerah otonom baru.
Karena itu, sangat disayangkan apabila dalam perjalanan 19 tahun ini, sebagian pejuang pemekaran mulai terlupakan. Bahkan lebih ironis lagi jika muncul pihak-pihak yang tidak pernah terlibat dalam perjuangan tetapi seolah menjadi aktor utama dalam sejarah pemekaran Kabupaten Bandung Barat.
Sejarah tidak boleh dipelintir. Sejarah harus ditulis secara jujur berdasarkan fakta dan dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai generasi muda Bandung Barat kehilangan jejak tentang siapa saja yang telah berjuang sehingga daerah ini bisa berdiri seperti sekarang.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan DPRD sudah saatnya menyusun dokumen sejarah resmi pemekaran KBB yang memuat kronologi perjuangan serta nama-nama tokoh yang terlibat sejak awal. Ini bukan soal penghormatan pribadi, melainkan bentuk penghargaan terhadap sejarah daerah.
Selain itu, para tokoh pemekaran seharusnya tidak diposisikan sebagai penonton dalam perjalanan pembangunan KBB. Mereka merupakan aset moral dan sumber referensi sejarah yang dapat memberikan masukan berharga bagi kemajuan daerah. Mengabaikan mereka sama saja dengan mengabaikan akar sejarah Kabupaten Bandung Barat itu sendiri.
Di usia ke-19 ini, KBB juga harus berani melakukan evaluasi. Apakah cita-cita pemekaran sudah tercapai? Apakah pelayanan publik sudah semakin dekat dengan masyarakat? Apakah kesejahteraan rakyat sudah meningkat secara merata? Apakah potensi daerah sudah dikelola secara optimal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab secara jujur, bukan dengan pencitraan atau laporan administratif semata.
Usia 19 tahun adalah usia kedewasaan. Kabupaten Bandung Barat harus mampu menunjukkan jati dirinya sebagai daerah yang maju, mandiri, dan berkarakter. Namun kemajuan itu tidak boleh membuat kita melupakan sejarah. Sebab daerah yang besar bukan hanya daerah yang berhasil membangun gedung dan infrastruktur, tetapi juga daerah yang menghormati para pendiri dan pejuangnya.
Maka pada peringatan HUT KBB ke-19 ini, mari kita tegaskan kembali bahwa para pejuang pemekaran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Kabupaten Bandung Barat. Jasa mereka tidak boleh dihapus, peran mereka tidak boleh dipinggirkan, dan nama mereka harus tetap tercatat dalam perjalanan panjang pembangunan Bandung Barat.
Selamat Hari Jadi Kabupaten Bandung Barat ke-19. Mari membangun masa depan tanpa melupakan sejarah perjuangan para pendahulu.